Selasa, 4 Oktober 2022

Wabub Sintang Buka Rakor Tim Audit Kasus Stunting

31 Agustus 2022

SINTANG, DN – Wakil Bupati Sintang, Melkianus membuka pelaksanaan Rapat Koordinasi Tim Audit Kasus Stunting Kabupaten Sintang di Balai Praja Kantor Bupati Sintang, Rabu (31/08/2022).

Melkianus menyampaikan rasa senangnya karena Kabupaten Sintang sudah berhasil membentuk Tim Audit Kasus Stunting dan bahkan sudah mulai melaksanakan kegiatan berupa rapat koordinasi.

“Ini langkah yang baik untuk memperkuat upaya kita mencegah dan menurunkan kasus stunting di Kabupaten Sintang. Saya mendapatkan informasi bahwa dari 14 kabupaten kota di Kalimantan Barat ini, baru Kabupaten Sintang saja, yang mana Tim Audit Kasus Stunting nya telah melaksanakan rapat koordinasi audit Kasus Stunting,” ujarnya.

Ia mengatakan audit kasus stunting merupakan proses identifikasi resiko dan penyebab resiko pada kelompok sasaran yang berbasis surveilan rutin atau sumber data lainnya.

“Khususnya sebagai penapisan kasus-kasus yang sulit untuk menemukan dan mengetahui resiko-resiko potensial penyebab langsung seperti asupan gizi yang tidak adekuat dan penyakit infeksi dan penyebab tidak langsung terjadinya stunting pada calon pengantin, ibu hamil, ibu nifas atau menyusui, baduta dan balita, agar dapat dibuat rencana tindak lanjut atau intervensinya,” papar Melkianus.

“Penanganan kasus stunting melalui audit kasus stunting bukan hanya membantu menyeleksi beberapa kasus yang sulit, namun juga membuka jalur konsultasi dan koordinasi antar unsur pengambil kebijakan, pelaksana program dan kegiatan bersama para pakar,” tambahnya.

Melkianus menyebutkan dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2021, bahwa audit kasus stunting merupakan salah satu kegiatan prioritas yang diyakini memiliki dampak yang besar dan signifikan dalam percepatan penurunan stunting.

Melalui kegiatan tersebut bisa diidentifikasi penyebab kasus agar didapatkan upaya pencegahan dan perbaikan tata laksana kasus serupa, analisis faktor resiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran yang kemudian akan diperoleh rekomendasi tindak lanjut penanganan kasusnya.

“Anak stunting itu lebih pendek atau perawakan pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Salah satu penyebab stunting adalah karena kurangnya asupan gizi sejak anak dalam kandungan atau gizi kurang pada ibu hamil. Perbaikan status kesehatan dan gizi ibu hamil dan sebelum hamil menjadi program yang strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia hingga tiga generasi kedepan karena kedaruratan dampak stunting mengancam kualitas sdm bangsa indonesia,” terang Melkianus.

Menurutnya peningkatan pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesehatan perlu juga dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan sejak remaja, karena status gizi dan kesehatan remaja putri sebelum memasuki kehamilan menjadi sangat penting dalam melindungi periode 1000 hari pertama kehidupan atau periode sejak mulai hamil sampai anak berusia 2 tahun yang merupakan masa keemasan pertumbuhan otak dan organ tubuh lainnya.

“Pencegahan stunting lebih efektif dimulai dari keluarga, secara khusus untuk keluarga-keluarga yang beresiko stunting yaitu keluarga yang mempunyai satu atau lebih faktor resiko stunting yang terdiri dari keluarga yang memiliki anak remaja atau calon pengantin, ibu hamil, anak usia 0-23 bulan, anak usia 24 bulan–59 bulan berasal dari keluarga miskin, pendidikan orangtua rendah, sanitasi lingkungan buruk dan air minum tidak layak,” terang Melkianus

“Sebagai salah satu bentuk komitmen Pemerintah Daerah Kabupaten Sintang untuk mempercepat penurunan stunting, sesuai dengan Visi Pemkab Sintang, maka Pemkab Sintang telah membentuk Tim Konvergensi Percepatan Penurunan Stunting sejak tahun 2019 hingga sekarang meskipun berganti nama menjadi TPPS. Kami tetap konsisten melaksanakan tugas khusus dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Sintang,” beber Melkianus. (SS)

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x